Hospitalisasi koping yang baik dalam menghadapi masalahnya. Ketika

Hospitalisasi pada anak merupakan kondisi
darurat yang mengharuskan anak untuk menjalani perawatan di rumah sakit sampai
kondisinya stabil untuk pemulangan kembali ke rumah (Supartini, 2014). Saat
kondisi hospitalisasi, anak akan merasa mendapatkan pengalaman yang penuh
tekanan, karena terbatasnya kemampuan anak untuk menjalani rutinitasnya. Tidak
jarang anak yang mengalami kecemasan ketika dihospitalisasi karena kondisi anak
yang dipisahkan dengan lingkungan sebelumnya dan dihadapkan pada lingkungan
Rumah Sakit. Anak akan merasa takut terhadap orang asing, terutama kondisi yang
dapat mengingatkan pada peristiwa traumatik, yang membuat anak cenderung
berperilaku negatif. Kondisi yang mengharuskan anak membatasi rutinitas, umumnya
dapat menyebabkan anak kehilangan kontrol, sehingga anak menjadi merasa tidak
aman dan tidak nyaman (Wong, 2014).

Hospitalisasi dapat memberikan dampak postif maupun negatif, tergantung
penerimaan anak menghadapi kondisinya. Dampak positif yang dapat dilihat adalah
anak sembuh dari sakitnya yang disertai dengan koping yang baik dalam
menghadapi masalahnya. Ketika anak dihospitalisasi, anak dapat belajar
bersosialisasi dengan teman di lingkungan rumah sakit, baik teman sebaya, lebih
muda, atau lebih tua. Dampak negatif yang dapat timbul yaitu, ketika reaksi
anak saat dihadapkan pada hospitalisasi pertama kali cenderung akan membuat anak
takut dengan lingkungan baru, orang-orang baru, dan membuat anak berperilaku
negatif seperti menangis, manja, agresif, hingga hilangnya kontrol terhadap
dirinya sendiri. Reaksi positif atau negatif yang muncul pada anak dipengaruhi
oleh usia perkembangan, pengalaman sebelumnya dengan penyakit, keterampilan
koping yang dimiliki, dan sistem pendukung yang ada (Hockenbery, 2011).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dari tahun ke tahun hospitalisasi anak di rumah sakit mengalami masalah
yang lebih serius, termasuk presentase anak yang dirawat. Di Amerika Serikat,
diperkirakan terdapat lebih dari 5 juta anak yang megalami hospitalisasi dengan
50%nya mengalami kecemasan dan stres hospitalisasi. Di Indonesia, anak yang
menjalani hospitalisasi diperkitakan terdapat 35 per 1000 anak (Rahmah, 2014).

Penelitian
yang dilakukan Jannah (2016) (Ri & Labuang, 2016) bahwa
stres hospitalisasi 
yang umumnya terjadi adalah karena
ketakutan, lingkungan rumah sakit yang menakutkan,
rutinitas rumah sakit, prosedur
yang menyakitkan, dan takut akan kematian. Anak menunjukkan reaksi emosionalnya
dengan menangis, marah,
memukul perawat, diam saat disapa perawat, tidak mau bicara dengan
teman di sebelah tempat tidurnya,
dan menolak makan. Reaksi fisik yang mungkin muncul adalah saat anak mengalami kesulitan tidur,  masalah pencernaan (mual, muntah, sakit perut), dan gelisah selama dirawat. Reaksi
intelektual pada anak sering ditunjukkan dengan malas melakukan
aktivitas selama dirawat inap, dan menganggap penyakitnya
adalah hukuman karena anak nakal. Penelitian
ini pun didukung oleh penelitian Febriana (2011)
(Prasekolah, Ruang, Rs, & Kediri, 2011) mengenai
“Gangguan Pola Tidur pada Anak Usia Prasekolah
di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Kediri” menunjukkan
bahwa sejumlah 23 anak usia
prasekolah (62%) memiliki
kualitas tidur yang buruk dengan reaksi, seperti anak sering menangis, menolak
perhatian, kurang berminat bermain,
anak menjadi pendiam, mudah marah, dan anak merasa
kehilangan kebebasannya.SH1 

Perawat merupakan individu yang akan terlibat
secara langsung dalam asuhan keperawatan pada anak yang dihospitalisasi.
Perawat merupakan petugas kesehatan yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan
pasien dan keluarga, maka dari itu lebih banyak peran perawat yang dibutuhkan
pasien jika dibandingkan dengan petugas kesehatan lainnya. Ketika anak pertama
datang untuk dihospitalisasi, maka perawat berperan untuk mengkaji dan memahami
reaksi yang muncul pada anak saat dihospitalisasi. Dalam pemberian perawatan
kepada anak, terdapat filosofi perawatan yang perlu menjadi perhatian perawat
dalam memberikan pelayanan keperawatan yaitu dengan berfokus kepada keluarga (family centered care) dan pencegahan
terhadap trauma (atraumatic care)
(Hidayat, 2008).

Perawat perlu memerhatikan kemampuan dalam
menentukan kekuatan dan kelemahan keluarga dalam memberikan asuhan kepada anak.
Kekuatan dan kelemahan keluarga dapat berupa tingkat pengetahuan orang tua,
tingkat ekonomi, peran dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kesembuhan anak.
Perawat dapat melibatkan langsung keluarga dalam memberikan perawatan, harapannya
proses penyembuhan anak akan lebih maksimal, karena dukungan yang kuat dan
keterampilan perawatan oleh keluarga dapat membuat anak merasa lebih aman dan
nyaman. Dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga,
perawat harus mampu membuat keputusan terbaik bersama-sama dengan keluarga
dengan memerhatikan anak dan berupaya menjadikan pengalaman hospitalisasi anak
adalah hal yang menyenangkan (Hidayat, 2008).

Atraumatic
care merupakan bentuk perawatan terapeutik yang tidak
menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga, maksudnya adalah dalam
pemberian perawatan berfokus pada pencegahan trauma, dan memerhatikan anak
sebagai individu dalam proses tumbuh kembang. Pemberian perawatan dengan atraumatic care adalah melalui tindakan yang dapat mengurangi
dampak fisik dan psikologis baik anak ataupun orang tua pada saat mengalami
hospitalisasi. Ketika timbul peristiwa yang dapat menyebabkan trauma pada anak,
seperti anak menangis, cemas, marah, nyeri dan lain-lain, jika hal tersebut
dibiarkan maka dapat berdampak pada psikologis anak dan akan menghambat
perkembangan anak. Oleh karena itu, perawatan dengan pencegahan terhadap trauma
merupakan salah satu bentuk dari keperawatan anak dalam meminimalisir dampak
hospitalisasi. Menurut Wong (2008), Hidayat (2008), dan Supartini (2014), hal
yang dapat dilakukan untuk dapat melaksanakan atraumatic care dengan memerhatikan prinsip yang dapat dilakukan
oleh perawat, diantaranya: (1) menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari
keluarga, (2) meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak,
(3) mencegah atau mengurangi cedera (injury)
dan nyeri (dampak psikologis), (4) tidak melakukan kekerasan pada anak, dan (5)
modifikasi lingkungan fisik.

(Huff et al.,
2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penerapan atraumatic care pada anak dengan hospitalisasi dapat menurunkan
trauma yang dirasakan anak dan orang tua. Melihat hal tersebut, perlakuan perawat terhadap anak akan sangat berdampak pada proses
penerimaan anak sehingga perlu diperhatikan intervensi yang tepat dan dapat berpengaruh
terhadap respon anak. Apabila
perawat mampu menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal maka akan
didapatkan hasil yang optimal juga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan anak. Peran dan
fungsi perawat yang terlaksana dengan baik dapat meminimalisir dampak negatif
hospitalisasi yang dirasakan anak. 
Dengan penerapan atraumatic
care dapat meminimalisir dampak psikologis dan fisik yang muncul dari
tindakan keperawatan yang diberikan, harapannya anak akan merasa aman berada di
rumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Ramadini, et
al. (2015) (Prof & Manado, 2015) mengenai pengaruh penerapan atraumatic care terhadap respon kecemasan anak yang mengalami
hospitalisasi menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari penerapan atraumatic care terhadap respon
kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi. Hal serupa dikemukakan Lilis (2016) (dr Soegiri Lamongan, 2016)
dalam penelitiannya mengenai atraumatic
care menurunkan kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah dengan hasil
sebagian besar anak (57,1%) memiliki kecemasan ringan dengan penerapan  atraumatic
care saat dihospitalisasi.

 

Rumah
Sakit Umum Daerah Cibabat adalah Rumah Sakit tipe B yang merupakan rumah sakit
rujukan di daerah Cibabat dan Cimahi. Pelayanan yang diberikan Rumah Sakit ini
adalah pelayanan paripurna, yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Rumah
Sakit Umum Daerah Cibabat adalah salah satu rumah sakit yang sudah mulai
menerapkan prinsip atraumatic care
dalam perawatan anak. Rumah Sakit ini memiliki 10 ruang rawat inap anak yang
didalamnya terdapat 6 ruang rawat inap kelas I dengan kapasitas 2 bed, kemudian
2 ruang rawat inap kelas II dengan kapasitas untuk 6 bed, dan 2 ruang rawat
inap kelas III dengan kapasitas 9 dan 13 bed.

Ruang
rawat inap anak di RSUD Cibabat ini memiliki kategori usia anak hingga 14
tahun, dengan jumlah rata-rata pasien yang masuk 8-9 anak per-hari. Hasil studi
pendahuluan terhadap reaksi anak ketika dihadapkan pada hospitalisasi
menunjukkan bahwa masih terdapat anak yang masuk ruang perawatan dan diberi
tindakan keperawatan menangis, berteriak, meronta-ronta, memukul, hingga
menolak masuk ruang perawatan anak.

Studi
pendahuluan yang dilakukan di ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat
didapatkan hasil bahwa terdapat ruangan khusus 
rawat inap anak yang bernuansa anak di bagian dinding dan jendela
ruangan, pemakaian kasur khusus anak dengan dilengkapi bedplang untuk menghindari risiko jatuh pada anak. Rumah Sakit
Daerah Cibabat sudah menerapkan beberapa prinsip atraumatic care seperti melibatkan orang tua dalam perawatan anak
secara langsung selama di rumah sakit, mendekatkan diri dengan anak dan memberi
distraksi saat dilakukan tindakan, tidak melakukan kekerasan pada anak, dan
modifikasi lingkungan fisik yang nyaman serta dapat mempercepat kesembuhan anak
.

Tenaga
keperawatan di ruang rawat inap anak berjumlah 25 orang dengan latar belakang
pendidikan D3 terdapat 21 orang, dan S1 terdapat 4 orang. Setelah dilakukan
beberapa pertanyaan mengenai prinsip atraumatic
care, masih terdapat beberapa perawat yang kurang mengetahui mengenai atraumatic care, tetapi dalam
pelaksanaan perawatan anak hal tersebut sudah sebagian diterapkan. Sehingga dalam hal ini
penulis memandang penting untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap perawat dalam
penerapan atraumatic care pada anak
yang dihospitalisasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat.

 SH1Tambahkan lagi hasil penelitian lainnya yang
berkaitan dengan reaksi dan dampak hospitalisasi pada anak, baik secara fisik,
psikologis, ataupun sosialnya