A. dapat memperluas wawasan siswa, serta meningkatkan pengetahuan

A.   
Latar Belakang 

Pendidikan adalah usaha yang
terencana untukmewujudkan suasana belajar yang nyaman agar peserta didik dapat
mengembangkan potensi didalam dirinya untuk pengendalian diri, kepribadian,
serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya dan masyarakat disekitarnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Ada 2 faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakter manusia yakni nature
(alami atau fitrah) dan nurture (sosialisasi dan pendidikan). Dalam agama
pun dijelaskan bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat
kebaikan. Karakter ini harus ditanamkan sejak kecil, agar ketika anak tersebut
berada dilingkungan sekitarnya misal sekolah anak tersebut akan menciptakan
rasa nyaman terhadap dirinya dan teman-temannya, suasana dikelas pun menjadi
lebih kondusif, dan berpengaruh juga pada naiknya prestasi akademik siswa
disekolah.

Sastra pada hakikatnya juga dikaitkan dengan eksrpresi, baik secara
lisan maupun tulisan. Sastra juga dikaitkan dengan kreasi dari penciptanya yang
cenderung dinamis, jadi sastra itu selalu berubah dari zaman-ke zaman, dan
sastra ini merupakan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan ke kreatifitasan
siswa.

Tujuan dari pembelajaran sastra dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia di kelas ialah  memanfaatkan
karya sastra agar dapat memperluas wawasan siswa, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa siswa. Dengan mempelajari sastra siswa juga
dapat meningkatkan penalaran, membangun kepribadian yang baik, mengembangkan
imajinasi siswa dan kepekaan terhadap budaya dan lingkungan sekitarnya. Begitupula
sastra memiliki peran penting dalam kehidupan manusia untuk membentuk karakter
manusia itu sendiri.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul ” Pengaruh pembelajaran sastra dalam
pembentukan karakter siswa di sekolah dasar negri 17 pagi”

 

B.    
Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yakni dengan memahami
informan kunci dan menempatkan mereka secara tepat dalam konteks. Metode ini
mengharuskan peneliti membangun asumsi dari pengamatan langsung. Penelitian kualitatif
ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengumpulkan data yang
spesifik, menganalisis secara induktif, menafsirkan dan menganalisis data.

Jenis penelitian yang dilakukan di
Sekolah dasar negri 17 pagi ini adalah jenis penelitian deskriptif yaitu
penelitian yang bertujuan untuk memecahkan maslah dengan memaparkan keadaan
objek yang diselidiki sebagaimana adanya, berdasarkan fakta-fakta yang aktual
pada saat sekarang ( Nawawi, 1992: p.85). Penelitian ini dilaksanakan di
Sekolah Dasar Negri 17 Pagi dengan guru Bahasa Indonesia yang menjadi subjek.

Teknik yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan
yakni wawancara dan observasi. Observasi dilakukan dengan melakukan pengumpulan
data yang diambil dari informan. Wawancara dilakuakn agar peneliti dapat
mengetahui hal-hal secara mendalam mengenai informan dan fenomena yang terjadi
pada saat itu, dimana hal ini tidak bisa didapat melalui observasi.

 

C.   
Pembahasan

1.     
Pendidikan karakter

Pendidikan karakter ialah penanaman nilai karakter yang menggunakan
pengetahuan, kesadaran dan tindakan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut baik
untuk diri sendiri, kepada sesama, dan lingkungan. Pendidikan karakter juga
harus ditanamkan disekolah, dan hal ini harus melibatkan semua komponen
disekolah yaitu kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran dan penilian, pengelolaan
mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pemberdayaan sarana dan prasarana, serta
proses kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Pendidikan karakter dapat dimasukkan pada setiap mata pelajaran
dengan materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma-norma dan dikaitkan
dengan konteks kehidupan sehari-hari. Siswa diberikan pengalaman yang memang
dirasakan siswa dalam kehidupan nya sehari-hari dimasyarakat.

Dua tugas dari adanya pendidikan karakter ini ialah mengembangkan
kemampuan moral yang dimiliki siswa. Pengembangan ini berfokus pada terciptanya
siswa yang memiliki kecerdasan intelektual dan siswa yang memiliki karakter yang
kuat ( Koesoema, 2007:118)

Di lingkungan sekolah pencapaian pendidikan karakter ialah dengan
terbentuknya budaya di sekolah, yakni kebiasaan sehari-hari di sekolah,
perilaku dan tradisi, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga
sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Cara yang dapat dilakukan
untuk menanamkan pendidikan karakter ini adalah melalui apresiasi sastra. Apresiasi
sastra ini adalah pembelajaran yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai
moral seperti nilai kejujuran, pengorbanan, kepedulian terhadap sesama, cinta
tanah air, santun, dan lain sebagainya yang memang banyak ditemukan di dalam
karya-karya sastra. Jenis karya sastra itu seperti puisi, cerita pendek, novel
dan drama.

Kurikulum sangat berhubungan erat dengan usaha untuk mengembangkan
potensi siswa yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum yang
digunakan juga diperuntukkan untuk anak didik.

2.     
Pengertian sastra

Sastra merupakan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan
penciptaan. Dalam seni banyak mengandung unsur-unsur kemanusiaan seperti
perasaan. Maka dari itu sastra tidak bersifat universal karena sastra selalu
berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sastra merupaka kegiatan yang
kreatif yang dikaitkan dengan ekspresi baik secara lisan maupun tulisan. Melalui
pembelajaran sastra ini pula siswa dilatih untuk mempertajam kepekaan terhadap
lingkungan sekitar, kepekaan terhadap masyarakat dan meningkatkan daya
imajinasi anak.

Kandungan dalam setiap karya sastra mencakup imajinasi, pengalaman
dan nila-nilai. Dengan kegiatan apresiasi sastra ini pula siswa dilatih
kecerdasan intelektualnya, juga kecerdasan emosionalnya. Sastra memberikan
ajaran kebaikan sekaligus dengan hiburan, maka dari itu bahasa yang digunakan
pun menggunakan bahasa yang tersusun dengan indah.

Karya sastra yang baik adalah karya yang dapat mengungkapkan
hal-hal yang tidak bisa dijelaskan orang lain. Didalam karya sastra memang
banyak ajakan moral, yang bersifat universal. Dari aspek gubahan, sastra dibuat
semenarik dan seindah mungkin sehingga membuat orang yang membaca, melihat dan
mendengar nya pun menjadi senang menikmatinya. Dari aspek isi terdapat nilai
moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter siswa ( Haryadi : 2011
:4)

3.     
Sastra sebagai media pembentukan karakter

Seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan fungsi sastra adalah
sebagai media katarsis yakni pembersih jiga bagi yang menulis maupun yang
membaca. Setelah membaca karya sastra perasaan dan fikiran nya menjadi terbuka
karena banyak mendapatkan ilmu, dan menjadi senang karena mendpaatkan hiburan.

Karya sastra yang dipilih untuk bahan ajar adalah karya sastra yang
berkualitas baik secara estetis maupun etis. Karya sastra yang baik mampu
membimbing siswa menjadi pribadi yang baik. Pemanfaatan karya sastra secara
ekspresif sebagai media pendidikan karakter melalui pengelolaan emosi,
perasaan, semanga, ide dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas dengan
menulis karya sastra serta bermain drama. Siswa dibimbing untuk menamkan dalam diri
setelah itu baru dituangkan dalam karya sastra yang akan menghasilkan karya
berupa puisi, pantun, drama, novel dan cerpen.  

Pembelajaran sastra ini diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif
terhadap karya sastra, dengan menghargai setiap karya sastra yang ada. Dalam pembelajaran
ini ditanamkan pengetahuan tentang karya sastra, ditumbuhkan kecintaan terhadap
karya sastra, dan dilatih untuk menghasilkan karya sastra.

Kegiatan aspresiatif dilakukan melalui kegiatan seperti membaca dan
mendengarkan karya sastra, mengarang cerita, mementaskan karya sastra misalkan
puisi, cerpen, drama. Tema-tema sastra dikelompokkan untuk dijadikan sebagai
media pendidikan karakter siswa. Karya sastra mengetengahkan berbagai tema ,
agar siswa dapat diajak untuk mengenali tingkatan watak atau karakter diri
sendiri. Setelah siswa mengenali, guru harus membimbing siswa untuk memahami
kualitas karakternya kearah yang lebih baik. Siswa diajak untuk berdialog
dengan tokoh didalam karya sastra yang berkualitas, dengan demikian dapat
dibentuk karakter dalam siri siswa dan ditanamkan dalam perilaku sehari-hari
mereka.

 

D.   
Kesimpulan

Berdasarkan
pembahasan dalam penelitian, makadisimpulkan bahwa :

1.     
Pendidikan
karakter ialah penanaman nilai karakter yang menggunakan pengetahuan, kesadaran
dan tindakan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut baik untuk diri sendiri,
kepada sesama, dan lingkungan. Pendidikan karakter juga harus ditanamkan
disekolah, dan hal ini harus melibatkan semua komponen disekolah yaitu
kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran dan penilian, pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pemberdayaan sarana dan prasarana, serta proses
kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

2.     
Pembelajaran
sastra menjadi sarana yang efektif untuk pendidikan karakter karena dengan karya
sastra siswa dapat memiliki nilai-nilai kehidupan yang menjadi inspirasi bagi
anak untuk melakukan sikap yang positif. Dengan karya sastra akan membuat siswa
lebih mengenal banyak karalter, memcintai, dan mendorongnya untuk berbuat
kebaikan.

3.     
 Karya sastra yang baik adalah karya yang dapat
mengungkapkan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan orang lain. Didalam karya sastra
memang banyak ajakan moral, yang bersifat universal.

4.     
Seorang
filsuf dan ahli sastra menyatakan fungsi sastra adalah sebagai media katarsis
yakni pembersih jiga bagi yang menulis maupun yang membaca. Setelah membaca
karya sastra perasaan dan fikiran nya menjadi terbuka karena banyak mendapatkan
ilmu, dan menjadi senang karena mendpaatkan hiburan.

5.     
Pengaruh
sastra dalam pembentukan karakter siswa tidak hanya didasarkan pada nilai yang
terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat
dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton
karya sastra padahakikatnya menanamkan
karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas.

6.     
Melalui
karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema, siswa dapat diajak untuk
mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri.